Ahlan wa sahlan!
Eureka!
Kemarin selamadua hari satu malam saya mengikuti satu rangkaian workshop kepenulisan yang diadakan oleh 'Sanggar Eksistensi' milik sahabat saya. Alhamdulillah di acara itu saya banyakmendapatkan hal-hal baru sebagai wawasan penambah kepuasan rasa ingin tahu sayasebagai 'Seorang Pencari Ilmu Sejati'--ehm!
Namun,ada satu sesi yang paling menyentuh saya dan membuat hati saya bergetar.
Malam ahad jam setengah sepuluh malam, kami dipertontonkan sebuah filmberjudul Dead Poet's Society.
Sejak awal saya sangat penasaran dengan film yang dibuat dengan setting Inggris ini. Kawan saya bercerita bahwakisah ini sangat bagus dan harus ditonton bagi orang-orang yang ingin membuat perubahan. Saya yang memang suka film dengan tema-tema seperti itu menjadi sangat excited dan tak sekalipun mengalihkan perhatian dari film yang durasinya kira-kira dua jam lebih.
Dan ternyata memang,wow!
Saya merasa sangat sebal dengan film itu tapi juga sangat kagum. Ide ceritanya lain dari yang lain. Yaitu tentang kisah anakmuda yang sekolah di asrama dengan puisi.Konflik yang disajikan pun juga beragam.Mulai dari ayah-anak, percintaan,hingga kepengecutan. Matinya tokoh utama karena cita-citanya yang dikekang oleh sang ayah membuat saya merasa sangat sebal. Ya. Sebal. Orang tua kolot memang merepotkan. Sok berkuasa dan sok tahu apa yangterbaik buat anaknya.Padahal yang merekalakukan hanyalah memenuhi ambisi mereka sendiri. Parahnya, setelah kejadian menjadi terlanjur pun,mereka tak juga mau sadar dan malah mencari kambing hitam.
Ending yang menggantung tapi menawan juga membuat saya sebal sekaligus tertawan. Pada akhitnya,secara harfiah, kebenaran tak harus menang. Itu yang saya tangkap dari ending cerita ini. Semua terlihat seolah kalah, namun ruh perjuangan itu masih terus ada.
Wah..wah..wah..
sebenarnya ada banyak sekali hal.Namun keyboard yangmenyebalkan membuat mood saya hilang, apalagi waktu juga semakin malam.
Hmmm...sampai jumpa saja!
Carpe Diem!!!!!
Minggu, 28 Desember 2008
Jumat, 26 Desember 2008
Maryamah Karpov--Akhirnya..!
Semalam, akhirnya saya bisa juga tamat membaca seri terakhir kisah Ikal "Laskar Pelangi"--Maryamah Karpov.
Sudah lama sekali rasanya saya menantikan hadirnya buku ini. Kepala saya sudah penuh dengan ribuan pertanyaan, ribuan harapan dan begitu besar rasa penasaran. Hmm.. saya sudah sangat merasa akrab dengan tokoh-tokoh yang ada dalam kisah itu. Bahkan kemarin tatkala saya menonton filmnya, saya menangis, seolah saya ini adalah seorang ibu yang terharu melihat anak-anaknya. Aneh kan?
Tapi rupanya kerinduan saya itu terobati dengan sedikit kekecewaan. Maryamah Karpov sangat jauh dari harapan saya. Rupanya saya terlalu berharap. Saya sangat kecewa.
Saya tidak merasa menemukan lagi kekuatan ruh cerita seperti yang ada pada buku seri pertama--atau sedikit pada dua seri sesudahnya. Maryamah Karpov terasa sangat asing dan tidak riil. Saya takut--saya juga menduga, mungkin hal ini erat berhubungan dengan niat si penulisnya.
Ya. Niat. Karena mungkin, dalam seri terakhir ini Bang Andrea sedang berada dalam posisi puncak yang penuh tuntutan deadline sehingga karyanya menjadi lain. Bukan pada gaya bercerita karena kategori tersebut masih membuat saya berdecak kagum dan terpinkal atas humornya yang mengena. Tapi sekali lagi pada ruh.
Saya sangat mencintai tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi. Saya sangat mencintai kisah mereka yang menakjubkan itu. Semoga kekecewaan ini adalah ekspresi kecintaan saya. Ya, semoga.
Sudah lama sekali rasanya saya menantikan hadirnya buku ini. Kepala saya sudah penuh dengan ribuan pertanyaan, ribuan harapan dan begitu besar rasa penasaran. Hmm.. saya sudah sangat merasa akrab dengan tokoh-tokoh yang ada dalam kisah itu. Bahkan kemarin tatkala saya menonton filmnya, saya menangis, seolah saya ini adalah seorang ibu yang terharu melihat anak-anaknya. Aneh kan?
Tapi rupanya kerinduan saya itu terobati dengan sedikit kekecewaan. Maryamah Karpov sangat jauh dari harapan saya. Rupanya saya terlalu berharap. Saya sangat kecewa.
Saya tidak merasa menemukan lagi kekuatan ruh cerita seperti yang ada pada buku seri pertama--atau sedikit pada dua seri sesudahnya. Maryamah Karpov terasa sangat asing dan tidak riil. Saya takut--saya juga menduga, mungkin hal ini erat berhubungan dengan niat si penulisnya.
Ya. Niat. Karena mungkin, dalam seri terakhir ini Bang Andrea sedang berada dalam posisi puncak yang penuh tuntutan deadline sehingga karyanya menjadi lain. Bukan pada gaya bercerita karena kategori tersebut masih membuat saya berdecak kagum dan terpinkal atas humornya yang mengena. Tapi sekali lagi pada ruh.
Saya sangat mencintai tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi. Saya sangat mencintai kisah mereka yang menakjubkan itu. Semoga kekecewaan ini adalah ekspresi kecintaan saya. Ya, semoga.
Langganan:
Postingan (Atom)

